Tinjauaan
Kasus Para Petani Korban Ternak Liar di Desa Laiyolo Baru
Masih
adakah harapan hidup bagi petani kita di Bontosikuyu ?
Mari Atasi Bersama Segala Bentuk Potensi Konflik Sosial
Banyaknya hewan ternak sapi yang
merusak lahan pertanian milik warga kembali menjadi polemik didesa laiyolo baru
dan sekitarnya, seperti disampaikan keluarga salah seorang korban kepada
penulis pada senin, 12 maret 2018.
Menurut anra
(keluarga korban/petani) “sebenarnya persoalan masuknya beberapa ekor sapi ke
lahan pertanian atau perkebunan milik warga bukan hal baru, bahkan beberapa
orang korban sudah nekat akan melakukan hal-hal tertentu jika masih menemukan
sapi dilahan mereka, anehnya hal tersebut tidak membuat pemilik/peternak
menjadi sadar dan peduli bahkan pembiaran hewan terus menjadi-jadi, hal ini
tentu sangat merugikan petani,”jelas anra
Sementara itu
pemerintah setempat maupun yang terkait dengan permasalahan ternak tersebut
sampai hari ini masih saja belum menemukan formula terbaik untuk mengatasi hama
peliharaan (sapi) ini. Hal ini dibuktikan lambatnya penanganan yang diberikan
kepada masayarakat khususnya para petani, sehingga ada rasa ketidak adilan
ditengah masyarakat
Pertanyaan
selanjutnya kemana Perginya PERDA tentang ternak hasil besutan Pemerintah
Kepulauan Selayar ditahun 2009 itu ? bukankah regulasi cerdas ini bisa mengatasi
persoalan ternak yang bisa jadi akibat dari maraknya bansos yang dikeluarkan
pemerintah sendiri ataupun titipan dari para wakil rakyat dengan alasan program
aspirasi ? mengapa kemudian seakan –
akan masyarakat yang diadu (antara petani dan peternak). Cetus seorang warga
yang tak ingin namanya disebutkan.
Kepala Desa laiyolo
Baru, Anwar kepada penulis sempat menjelaskan bahwa keadaan ini menjadi sulit
karena peraturannya harus melalui Perdes dimana yang terlibat dalam perancangan
sampai penetapannya adalah berbagai stekholder termasuk BPD, Tokoh Agama,
Aparat dan beberapa pihak terkait lainnya yang sampai hari ini belum bisa
menghasilkan kemufakatan utamanya terkait masalah sangksi bagi pemilik/peternak
yang ternaknya sudah merusak lahan pertanian milik warga.
Lalu apa yang harus
dilakukan para petani/pekebun di Desa – desa yang ada dikecamatan Bontosikuyu jika
saja masalah yang mereka hadapi tak kunjung menemukan solusi ? walau sempat
terpikir cara anarkis. Namun apakah itu solusi ? tentu tidak. Kekerasan hanya
menimbulkan masalah baru. Namun jika tidak digubris kemana mereka harus
menggantungkan hidup? Sementara sumber mata pencaharian mereka hampir setiap
saat dihancurkan oleh hewan yang bernama sapi dan tentu mempunyai tuan
dibelakang ekor mereka ? kemana mereka harus mengadu ? semoga masyarakat petani
kita di Desa laiyolo dan sekitarnya bisa berfikir jernih ditengah himpitan
ekonomi akibat sumber matapencaharian mereka porak poranda oleh oknum yang tak
pernah mau bertanggung jawab.
Alhasil sampai hari ini berbagai
pihak utamanya dari NGO atau beberapa LSM, dan awak media terus berupaya agar
Pemerintah lebih cepat dan tanggap untuk menemukan solusi dari persoalan tersebut.
Semua pihak berharap persoalan ini dapat terselesaikan dengan baik, aman dan
damai, bukan menjadi bahan konflik yang tak berkesudahan
Seharusnya, darimanapun sumbernya, baik bansos ataupun bantuan aspirasi peternakan dan pertanian saling mendukung banyaknya ternak seyogianya menjadi bagian dari kemajuan suatu daerah atau wilayah (kata mas adi, seorang penjual tanaman) demikian halnya di sektor pertanian. Peternakan dan Pertanian harusnya menjadi sesuatu mengatasi konflik antar masyarakat utamanya dalam hal ekonomi, tapi jika dikelola di tempat dan waktu serta orang yang kurang tepat apalagi salah sasaran maka yang timbul adalah sumber konflik bukannya mensejahterakan malah menjadi momok kekacauan pembangunan dan bisa jadi penyebab kemiskinan. setidaknya kemiskinan "Rasa" kata pepatah sebaik baiknya orang bukan yang merasa dirinya pintar, tapi yang dirinya pintar merasa. (semoga cepat ada solusi)
Salam Kesetiakawanan Sosial, Aditya Karya Mahatva Yodha....