Selasa, 13 Maret 2018

PETANI LAIYOLO BONTOSIKUYU,MENANTI KEPASTIAN DIBALIK PERDA TERNAK KEPULAUAN. SELAYAR



Tinjauaan Kasus Para Petani Korban Ternak Liar di Desa Laiyolo Baru
Masih adakah harapan hidup bagi petani kita di Bontosikuyu ?

Mari Atasi Bersama Segala Bentuk Potensi Konflik Sosial

Banyaknya hewan ternak sapi yang merusak lahan pertanian milik warga kembali menjadi polemik didesa laiyolo baru dan sekitarnya, seperti disampaikan keluarga salah seorang korban kepada penulis pada senin, 12 maret 2018.

Menurut anra (keluarga korban/petani) “sebenarnya persoalan masuknya beberapa ekor sapi ke lahan pertanian atau perkebunan milik warga bukan hal baru, bahkan beberapa orang korban sudah nekat akan melakukan hal-hal tertentu jika masih menemukan sapi dilahan mereka, anehnya hal tersebut tidak membuat pemilik/peternak menjadi sadar dan peduli bahkan pembiaran hewan terus menjadi-jadi, hal ini tentu sangat merugikan petani,”jelas anra

Sementara itu pemerintah setempat maupun yang terkait dengan permasalahan ternak tersebut sampai hari ini masih saja belum menemukan formula terbaik untuk mengatasi hama peliharaan (sapi) ini. Hal ini dibuktikan lambatnya penanganan yang diberikan kepada masayarakat khususnya para petani, sehingga ada rasa ketidak adilan ditengah masyarakat

Pertanyaan selanjutnya kemana Perginya PERDA tentang ternak hasil besutan Pemerintah Kepulauan Selayar ditahun 2009 itu ? bukankah regulasi cerdas ini bisa mengatasi persoalan ternak yang bisa jadi akibat dari maraknya bansos yang dikeluarkan pemerintah sendiri ataupun titipan dari para wakil rakyat dengan alasan program aspirasi ?  mengapa kemudian seakan – akan masyarakat yang diadu (antara petani dan peternak). Cetus seorang warga yang tak ingin namanya disebutkan.

Kepala Desa laiyolo Baru, Anwar kepada penulis sempat menjelaskan bahwa keadaan ini menjadi sulit karena peraturannya harus melalui Perdes dimana yang terlibat dalam perancangan sampai penetapannya adalah berbagai stekholder termasuk BPD, Tokoh Agama, Aparat dan beberapa pihak terkait lainnya yang sampai hari ini belum bisa menghasilkan kemufakatan utamanya terkait masalah sangksi bagi pemilik/peternak yang ternaknya sudah merusak lahan pertanian milik warga.

Lalu apa yang harus dilakukan para petani/pekebun di Desa – desa yang ada dikecamatan Bontosikuyu jika saja masalah yang mereka hadapi tak kunjung menemukan solusi ? walau sempat terpikir cara anarkis. Namun apakah itu solusi ? tentu tidak. Kekerasan hanya menimbulkan masalah baru. Namun jika tidak digubris kemana mereka harus menggantungkan hidup? Sementara sumber mata pencaharian mereka hampir setiap saat dihancurkan oleh hewan yang bernama sapi dan tentu mempunyai tuan dibelakang ekor mereka ? kemana mereka harus mengadu ? semoga masyarakat petani kita di Desa laiyolo dan sekitarnya bisa berfikir jernih ditengah himpitan ekonomi akibat sumber matapencaharian mereka porak poranda oleh oknum yang tak pernah mau bertanggung jawab.

Alhasil sampai hari ini berbagai pihak utamanya dari NGO atau beberapa LSM, dan awak media terus berupaya agar Pemerintah lebih cepat dan tanggap untuk menemukan solusi dari persoalan tersebut. Semua pihak berharap persoalan ini dapat terselesaikan dengan baik, aman dan damai, bukan menjadi bahan konflik yang tak berkesudahan 

Seharusnya, darimanapun sumbernya, baik bansos ataupun bantuan aspirasi peternakan dan pertanian saling mendukung banyaknya ternak seyogianya menjadi bagian dari kemajuan suatu daerah atau wilayah (kata mas adi, seorang penjual tanaman) demikian halnya di sektor pertanian. Peternakan dan Pertanian harusnya menjadi sesuatu mengatasi konflik antar masyarakat utamanya dalam hal ekonomi,  tapi jika dikelola di tempat dan waktu serta orang yang kurang tepat apalagi salah sasaran maka yang timbul adalah sumber konflik bukannya mensejahterakan malah menjadi momok kekacauan pembangunan dan bisa jadi penyebab kemiskinan. setidaknya kemiskinan "Rasa" kata pepatah sebaik baiknya orang bukan yang merasa dirinya pintar, tapi yang dirinya pintar merasa. (semoga cepat ada solusi)
Salam Kesetiakawanan Sosial, Aditya Karya Mahatva Yodha....