Benteng, 17 September 2016
Guru
adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, begitulah istilah yang sering aku dengar
semasa sekolah dulu, namun kini istilah tersebut seakan mulai pudar sering
dengan munculnya istilah Guru adalah “Pahlawan Butuh Tanda Jasa”, manusiawi,
siapa yang tak butuh balas jasa apalagi jika itu dikaitkan dengan kesejahteraan
yang sekaligus “ bisa jadi” berimbas pada semakin baiknya kinerja.
Hidup
sejahtera dan mapan adalah dambaan setiap orang tak terkecuali bagi orang yng
berprofesi sebagai guru, bekerja secara profesional akibat terpenuhinya
kesejahteraan adalah hal yang mutlak dan menjadi dambaan setiap penerima jasa,
berbicara guru berarti penerima jasanya adalah murid/siswa dan secara tak
langsung adalah orang tua murid/siswa.
Lalu
mengapa dengan banyaknya tanda Jasa yang diterima guru baik dalam bentuk
tunjangan daerah terpencil, sertifikasi, Dll. yang seyogianya meningkatkan
kesejahteraan guru supaya lebih profesional dan memberikan kinerja terbaik
dalam dunia pendidikan dimana mereka ditugaskan, malah menimbulkan ketidak
puasan ditengah masyarakat utamanya orang tua siswa/murid ? bahkan ada beberapa
pihak yang mengatakan bahwa jasa-jasa/tunjangan-tunjangan yang diterima guru
saat ini perlu dievaluasi.
Dari
pantauan penulis entah itu di warkop, di pasar, ditoko-toko jika bertemu orang
tua siswa, selalu keluhan yang muncul adalah guru yang tak masuk mengajar, dan
ini kebanyakan disampaikan oleh masyarakat yang bermukim diwilayah kepulauan yang
kebetulan karena urusan dagang atau lainnya berada di daratan kepulan selayar.
mereka mengeluhkan karena banyak guru hanya tinggal nama di absen tapi yang
bersangkutan tidak pernah ada ditempat untuk mengajar. ‘bagaimana anak – anak bisa
pintar, kalau saban hari hanya diberi materi belajar itu-itu saja, ini karena
guru yang bertanggung jawab jarang ada ditempat,” keluh salah satu orang tua
siswa.
Info
guru yang jarang masuk mengajar sebenarnya telah sering mengemuka dan
seringkali menjadi bahan alat politik pula. Melihat hal tersebut penulis lalu
berpendapat, jangan-jangan ini hanya permainan elit atau setidaknya ada unsur
perasaan dibandingkan profesionalisme dalam menjalankan tugas profesi, karena
disetiap perhelatan politik yang mempunyai visi pendidikan pasti salah satunya
entah tertulis maupun tidak, selalu ada janji
akan menertibkan hal tersebut (guru malas masuk mengajar.red). anehnya sampai
hari ini terjadi lagi dan lagi.
Apakah
pemerintah atau pihak terkait tidak serius ? atau guru yang bersangkutan yang
tidak bermoral, mau saja menerima hak tanpa mau melaksanakan kewajiban ? pertanyaan
kedua menurut penulis hanya dapat dijawab oleh guru yang dimaksud.
Melalui tulisan ini
penulis tidak ada maksud merendahkan profesi guru, karena penulis sadar tanpa
guru tak ada generasi pelanjut negara yang dapat diperhitungkan namun demikian
kesalahan memilih guru (guru malas mengajar) bisa menjadikan lahirnya generasi
negara yang
tak diperhitungkan menjadi pecundang dinegara sendiri (tentu ini bukan harapan
kita semua, masyarakat yang berakal)
Lalu
bagaimana solusi terbaiknya ? kemarin saya bertemu seorang keluarga, dia adalah
seoarang guru dan telah mengajar sekitar delapan tahun, empat tahun di pulu jampea
dan empat tahun lagi di pulau bonerate, dua tempat yang berbeda. Dan disetiap
tahun dalam delapan tahun tersebut ia hanya pulang ketika libur panjang dan
ketika ada kegiatan peningkatan kemampuan guru. Nah untuk hal yang kedua
tersebut, ia keluhkan, karena menurutnya kegiatan tersebut sering menyita waktu
sampai berminggu-minggu sehingga ia tak dapat menjalankan kewajiban layaknya
seorang guru yakni mengajar, sementara kemampuan guru dalam hal teknologi
informasi juga sangat diperlukan untuk memperlancar laporan kegiatan kepada
instansi dimana ia bekerja dan hal tersebut hanya bisa didapatkan ketika mereka
berada di daratan kepulaun selayar.
Tak
semua vanili hitam tanda rusak, bisa jadi ia varietas langka, vanili yang dapat
menyerbuk dengan baik dan menghasilkan suatu yang tak ternilai, tak semua
kawan, orangtua, teman kita yang
berprofesi guru bermoral jelek, ada juga yang masih mempertahankan dedikasi dan
idealisme sebagai guru yang mengenal istilah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa (hal ini
diberikan untuk guru yang masih aktif mengajar dan bahkan belum tersentuh jasa,
apalagi status sebagai PNS).
Hari
ini untuk esok semoga ada solusi serius terhadap permasalahan pendidikan di
kepulaun selayar terkhusus diwilayah kepulauan, karena anak-anak kita adalah
asset bangsa yang tak ternilai harganya.
Salam.
