Minggu, 18 September 2016

GURUKU MAPAN MURIDKU SENANG

Benteng, 17 September 2016

Guru adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, begitulah istilah yang sering aku dengar semasa sekolah dulu, namun kini istilah tersebut seakan mulai pudar sering dengan munculnya istilah Guru adalah “Pahlawan Butuh Tanda Jasa”, manusiawi, siapa yang tak butuh balas jasa apalagi jika itu dikaitkan dengan kesejahteraan yang sekaligus “ bisa jadi” berimbas pada semakin baiknya kinerja.


Hidup sejahtera dan mapan adalah dambaan setiap orang tak terkecuali bagi orang yng berprofesi sebagai guru, bekerja secara profesional akibat terpenuhinya kesejahteraan adalah hal yang mutlak dan menjadi dambaan setiap penerima jasa, berbicara guru berarti penerima jasanya adalah murid/siswa dan secara tak langsung adalah orang tua murid/siswa.

Lalu mengapa dengan banyaknya tanda Jasa yang diterima guru baik dalam bentuk tunjangan daerah terpencil, sertifikasi, Dll. yang seyogianya meningkatkan kesejahteraan guru supaya lebih profesional dan memberikan kinerja terbaik dalam dunia pendidikan dimana mereka ditugaskan, malah menimbulkan ketidak puasan ditengah masyarakat utamanya orang tua siswa/murid ? bahkan ada beberapa pihak yang mengatakan bahwa jasa-jasa/tunjangan-tunjangan yang diterima guru saat ini perlu dievaluasi.

Dari pantauan penulis entah itu di warkop, di pasar, ditoko-toko jika bertemu orang tua siswa, selalu keluhan yang muncul adalah guru yang tak masuk mengajar, dan ini kebanyakan disampaikan oleh masyarakat yang bermukim diwilayah kepulauan yang kebetulan karena urusan dagang atau lainnya berada di daratan kepulan selayar. mereka mengeluhkan karena banyak guru hanya tinggal nama di absen tapi yang bersangkutan tidak pernah ada ditempat untuk mengajar. ‘bagaimana anak – anak bisa pintar, kalau saban hari hanya diberi materi belajar itu-itu saja, ini karena guru yang bertanggung jawab jarang ada ditempat,” keluh salah satu orang tua siswa.

Info guru yang jarang masuk mengajar sebenarnya telah sering mengemuka dan seringkali menjadi bahan alat politik pula. Melihat hal tersebut penulis lalu berpendapat, jangan-jangan ini hanya permainan elit atau setidaknya ada unsur perasaan dibandingkan profesionalisme dalam menjalankan tugas profesi, karena disetiap perhelatan politik yang mempunyai visi pendidikan pasti salah satunya entah tertulis maupun tidak, selalu ada  janji akan menertibkan hal tersebut (guru malas masuk mengajar.red). anehnya sampai hari ini terjadi lagi dan lagi.

Apakah pemerintah atau pihak terkait tidak serius ? atau guru yang bersangkutan yang tidak bermoral, mau saja menerima hak tanpa mau melaksanakan kewajiban ? pertanyaan kedua menurut penulis hanya dapat dijawab oleh guru yang dimaksud. 

Melalui tulisan ini penulis tidak ada maksud merendahkan profesi guru, karena penulis sadar tanpa guru tak ada generasi pelanjut negara yang dapat diperhitungkan namun demikian kesalahan memilih guru (guru malas mengajar) bisa menjadikan lahirnya generasi negara yang tak diperhitungkan menjadi pecundang dinegara sendiri (tentu ini bukan harapan kita semua, masyarakat yang berakal)

Lalu bagaimana solusi terbaiknya ? kemarin saya bertemu seorang keluarga, dia adalah seoarang guru dan telah mengajar sekitar delapan tahun, empat tahun di pulu jampea dan empat tahun lagi di pulau bonerate, dua tempat yang berbeda. Dan disetiap tahun dalam delapan tahun tersebut ia hanya pulang ketika libur panjang dan ketika ada kegiatan peningkatan kemampuan guru. Nah untuk hal yang kedua tersebut, ia keluhkan, karena menurutnya kegiatan tersebut sering menyita waktu sampai berminggu-minggu sehingga ia tak dapat menjalankan kewajiban layaknya seorang guru yakni mengajar, sementara kemampuan guru dalam hal teknologi informasi juga sangat diperlukan untuk memperlancar laporan kegiatan kepada instansi dimana ia bekerja dan hal tersebut hanya bisa didapatkan ketika mereka berada di daratan kepulaun selayar.

Tak semua vanili hitam tanda rusak, bisa jadi ia varietas langka, vanili yang dapat menyerbuk dengan baik dan menghasilkan suatu yang tak ternilai, tak semua kawan, orangtua, teman  kita yang berprofesi guru bermoral jelek, ada juga yang masih mempertahankan dedikasi dan idealisme sebagai guru yang mengenal istilah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa (hal ini diberikan untuk guru yang masih aktif mengajar dan bahkan belum tersentuh jasa, apalagi status sebagai PNS).

Hari ini untuk esok semoga ada solusi serius terhadap permasalahan pendidikan di kepulaun selayar terkhusus diwilayah kepulauan, karena anak-anak kita adalah asset bangsa yang tak ternilai harganya.

Salam.


Jumat, 16 September 2016

NILAI PAHLAWAN DI ERA POLITIK ANGGARAN



Benteng, 16 September 2016.
Malam ini semangat nasionalisme saya kembali membara, dari sebuah pertemuan kecil dengan komunitas kami yang memang terbilang kecil pula (hanya terdiri dari beberapa orang saja) aku mendapat informasi bahwa usulan sosok pahlawan nasional yang berasal dari daerah kepulauan selayar, yang telah direncanakan beberapa waktu lalu melalui Komunitas Masyarakat Peduli Sejarah dan didukung oleh para peneliti ditingkat provinsi sulawesi selatan bahkan pemerintah daerah, terancam tak mendapat anggaran untuk seminar, sementara hal tersebut adalah salah satu persyaratan untuk pengusulan gelar kepahlawanan nasional.
Ada apa gerangan ? dalam hati (setengah miris) aku bertanya sudah tak adakah lagi anggaran sedikitpun untuk pahlawan yang telah membela republik ini dengan darah dan air mata bahkan jiwa sekalipun, sehingga terlepas dari belenggu penjajahan, sehingga hari ini kita dapat berkatifitas dengan tenang tanpa khawatir tiba-tiba di Door ..oleh penjajah karena “hal tersebut mungkin saja” tidak sesuai keinginan penjajah.
Apa yang diusulkanpun kemarin sebenarnya sudah melalui pengkajian bertahun-tahun dan hal ini mewakili sejumlah pejuang yang ada dikepulauan selayar baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia bahkan oleh pejuang yang tak ingin jasanya disebutkan termasuk nama pahlawan yang diusul.
Sampai tulisan ini dibuat penulis belum mendapatkan alasan pasti mengapa hal tersebut lepas dari pembahasan, karena kami hanya bisa berjuang mengangkat citra kampung halaman dimata Negara bahkan dunia, bahwa dipulau ini masih ada pahlawan-pahlawan yang pernah berjuang untuk kemerdekaan yang bisa kita nikmati sampai hari ini.
Kami tak paham politik anggaran, kami tak paham narasi apa saja yang terbangun yang melahirkan konsensus yang “mungkin saja” menyepelekan nilai kepahlawanan. Kami tahu sampai hari ini yang dibahaspun adalah kesejahteraan. Kami hanya berharap bahwa suatu hari nanti perjuangan ini dapat terwujud. karena bagi kami nilai kepahlawanan adalah tak kalah pentingnya dengan kesejahteraan itu sendiri. Tanpa Kemerdekaan Takkan ada Kesejahteraan dan Hanya dengan MERDEKA... kita dapat sejahtera dan ironinya merdeka itu lahir dari orang – orang yang dianggap kurang peting hari ini.